Home BERITA Ini cara Mencegah Jakarta yang akan Tenggelam 13 Tahun lagi!!

Ini cara Mencegah Jakarta yang akan Tenggelam 13 Tahun lagi!!

156
1
SHARE

Judi Online | Judi Bola | Judi Casino | Judi Bola Online | Casino Online | Poker | Poker Online | Domino Online | RedBull | Red Bull

Ini cara Mencegah Jakarta yang akan Tenggelam 13 Tahun lagi!!.Hujan beberapa jam yang melanda Jakarta Senin kemarin langsung membuat Jakarta lumpuh.

Banjir kali ini mengingatkan pernyataan BMKG sebagai banjir tahunan yang memang datang besar setiap lima tahun sekali.

Banjir ini juga mengingatkan betapa Jakarta akan tenggelam pada tahun 2030 seperti yang diingatkan Bappenas.

Jika cara-cara mengatasinya dilakukan secara konvensional alias biasa-biasa saja. Yang dimaksud cara biasa adalah apa yang dilakukan Pemda DKI selama ini.

Mulai dari pengelolan sampah, perbaikan saluran, revitalisasi sugai, merelokasi rumah kumuh, dan membuat sumur resapan.

Jadi mencegah banjir Jakarta harus dilakukan cara-cara yang tidak biasa. Seperti apa? Untuk menjawabnya kita review dulu apa yang dipikirkan banyak pejabat selama ini.

Sebelumnya telah banyak polemik yang terbagi dalam dua kubu dan dua teori soal upaya reklamasi pantai utara Jakarta.

Masing-masing memiliki argumen dengan menghadirkan para pakar. Tapi ujung-ujungnya adalah soal kebijakan: Reklamasi buat siapa?

Memang semuanya buat rakyat, tetapi dipertanyakan rakyat yang mana.

Sampai saat inipun di DPRD DKI Jakarta masih terbagi dua kubu. Kubu yang pro agar reklamasi dilanjutkan karena bisa mengatasi banjir (dalihnya mengatasi banjir).

Kubu yang kontra juga bersikap tolak reklamasi dengan dalih mencegah banjir yang lebih besar karena aliran air masuk ke laut terhambat oleh daratan hasil reklamasi.

Meski dalam reklamasi dibuat kanal-kanal tetap saja menghambat percepatan aliran 13 sungai ke teluk Jakarta.

Maka yang cocok seperti digagas Presiden Soeharto adalah membuat tembok besar (giant wall) untuk menahan abrasi air laut dan intrusi air laut masuk Jakarta karena air terus disedot sehingga terjadi penurunan tanah sekitar 7,5 cm pertahun.

Sementara itu tinggi permukaan air laut terus naik. Tahun 2017 menurut Bappenas air laut sudah naik dari 233 cm menjadi 255 cm.

Dengan demikian jika tidak ada langkah yang luar biasa, Jakarta akan tenggelam tahun 2030.

Kini tanda-tanda sudah semakin banyak. Kita tidak hanya disuruh membaca tanda-tanda alam yang akan mengancam manusia.

RedBull88 Header

Tetapi juga harus segera bertindak. Berdiskusi dan berdebat hanya membuang waktu sementara bencana tak bisa ditolak.

Dalam konsep ijtihad, lebih baik melakukan tindakan, meskipun salah tapi masih mendapat satu kebaikan (pahala).

Sementara jika ijtihadnya benar akan mendapat dua kebaikan. Fokus utamanya adalah melindungi warga Jakarta.

Dengan demikian langkah luar biasa yang perlu mendapat perhatian serius pertama adalah melanjutkan pembangunan tanggul raksana (giant great wall).

Kepala Bappenas telah memberi tahu Wakil Gubernur Sandiaga Uno soal ini. Nama proyeknya Proyek Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) atau National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).

Tanggul ini bertujuan mencegah air laut masuk ke daratan Ibukota. Biayanya tidak main-masin besarnya.

Bambang brodjonegoro menyebut untuk penyediaan air bersih di Jakarta permukaan saja Rp 37 triliun. Total investasi sampai 2050 sekitar Rp 89 triliun.

Tanggul pengaman pantai sepanjang 20 kilo meter yang terbagi dalam tiga bagian pekerjaan.Kementerian PUPR membangun 4,8 kilometer di wilayah Kamal Muara, Kalibaru dan Pluit di Muara Baru.

Progresnya, proyek ini baru terbangun sekitar 76 persen.

Bagian lainnya dalam proses pembangunan oleh Pemda DKI sepanjang 6,7 kilometer, yang berada di wilayah Kamal Muara, Muara Angke, Sunda Kelapa dan Kali Blencong.

Sisanya, sekitar 8,5 kilometer akan dibangun swasta yang melibatkan Intiland dan PT Pembangunan Jaya Ancol di wilayah Pantai Mutiara dan Ancol.

Saat ini kedua lokasi tersebut belum dilakukan pembangunan karena swasta memerlukan payung hukum untuk diberikan tanggung jawab melindungi kawasannya sendiri.

Wagub Sandiaga Uno merespon positif dan akan segera melakukan intervensi, inovasi, regulasi dari Pemprov.

Langkah kedua adalah mewujudkan megapolitan yang meliputi DKI Jakarta, Depok, Bogor dan Cianjur.

Darah ini yang selama ini menyumbang terbesar banjir di Jakarta. Tanpa langkah berani menghentikan atau mengatur sumber pengirim banjir, sulit rasanya Jakarta tidak akan tenggelam.

Kawasan Puncak Cianjur saat ini terus bermunculan pengembang perumahan dan membabat resapan air, dan lari semua ke sungai-sungai yang bermuara ke Jakarta.

Konsep ini pernah digagas Gubernur DKI Jakarta Sutiyono namun berhenti karena tidak ada respon lanjutan dari pemerintah Pusat.

Jika mau, maka Presiden menerbitkan keputusan Megapolitan. Gubernur kemudian diangkat oleh Presiden dengan kedudukan setingkat menteri.

Dengan demikian semua kebijakan yang menyangkut lintas kota/kabupaten di sekitar Jakarta harus terpadu.

Termasuk di dalamnya adalah pengaturan tata ruang. Jika tidak demikian, masing-masing daerah akan mengutamakan daerahnya sendiri. Ego sektoral inilah yang harus dihentikan, jika mau maju.***

JUDI ONLINE | JUDI BOLA ONLINE | JUDI BOLA | AGEN BOLA | AGEN BOLATERPERCAYA

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here